Follow via Twitter Follow via Google+ RSS Feed

Jumat, 20 Januari 2012

Toy Camera

Hello, Kali ini admin akan membagi software yang bernama TOY CAMERA. Ini cocok banget buat kalian kalian yang suka photo editing.....

Name: Toycamera AnalogColor 0.4 For Windows
Publisher: pentacom
Description: Toycamera AnalogColor is a great photo editing application that allows you to transform digital images to analog-like pictures, but also lets you add a Polaroid styled frame.
License: Shareware
Limitation: No limitations
File Size: 3.7MB
Requirements: Windows XP +
Rating: ★★★½



Screenshot:

toycamera-analogcolor 
 
 
 
 Download Here
 
 

Jumat, 13 Januari 2012

Retreat Rokhris 2011


Sesungguhnya terang kasih Kristus menaungi setiap kita untuk mewujudkan persatuan agar kehendak Kristus sendiri dapat dinyatakan di tengah dunia ini sebagaimana yang sudah difirmankan-Nya sejak awal. Sehingga, inilah saatnya bagi kita untuk meresponi apa yang sudah difirmankan-Nya dengan berkomitmen untuk mewujudkan persatuan dalam kasih itu melalui rasa saling membutuhkan sehingga nyatalah  saling membantu dan saling  mengampuni sehingga timbul rasa saling mengasihi.
Harus disadari bahwa setiap pribadi membutuhkan pribadi lain untuk saling melengkapi karena hidup dalam kehidupan yang erat dengan ke-aku-an akan banyak kekosongan sehingga muncul kekecewaan. Untuk menghindarinya bahkan menghapuskannya, wajib ditekankan untuk menggantikan ke-aku-an menjadi ke-satu-an dimana kita saling mendukung untuk menyatakan kasih Kristus di tengah dunia ini.
Oleh karena itu, acara ini diharapkan dapat menjadi acuan utama untuk mencapai persatuan di dalam Kristus. Dengan menyadari bahwa banyak yang kami perlukan, maka kami membutuhkan perhatian dan kerjasamanya dalam mewujudkan hal tersebut. Terima kasih dan Tuhan Yesus memberkati.

LANDASAN KEGIATAN
·       Visi dan Misi Rohkris (Efesus 4 : 13-16)









·       Program Kerja OSIS bidang 1 masa bakti 2011-2012
·        Dasar Alkitab :
         Kolose 3 : 15  Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam        hatimu, karena untuk itulah kamu telah  dipanggil menjadi satu tubuh. Dan             bersyukurlah.”

TUJUAN KEGIATAN
·           Membangun dan meningkatkan kerohanian siswa - siswi Rohkris SMAN 12
·           Menjalin persaudaraan di antara siswa - siswi Rohkris SMAN 12

Minggu, 08 Januari 2012

Bahaya Memendam Emosi

Memendam emosi atau perasaan tidak hanya berdampak pada gangguan psikis tetapi juga dapat berdampak langsung pada gangguan kesehatan tubuh. Ada beberapa penyakit yang terjadi jika Anda sering memendam emosi.
“Emosi dan perasaan trauma yang tidak ditangani dengan baik, lama-lama dapat menumpuk pada bagian tubuh dan berpotensi menimbulkan penyakit. Ini karena orang yang emosinya kacau otomatis imun tubuhnya turun, napas berantakan, suhu tubuh naik, depresi atau terlihat lebih tua, juga emosi negatifnya lama-lama menumpuk di bagian-bagian tubuh lain,” ujar Irma Rahayu, Soul Healer dari Emotional Healing Indonesia (EHI) dalam acara Emotional Healing Group Therapy di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis (8/12/2011).

Berikut beberapa penyakit yang berhubungan dengan emosi, yaitu:


1. Alergi, karena penyangkalan akan kekuatan dan kemampuan diri.
2. Radang sendi, karena perasaan tidak dicintai, ditolak dan perasaan dikorbankan.
3. Demam, karena perasaan marah yang tidak mampu diekpresikan.
4. Ginjal, karena kekecewaan, perasaan gagal, rasa malu yang ditekan.
5. Maag, karena takut, cemas, perasaan tidak puas pada diri sendiri.
6. Penyakit paru-paru, karena putus asa, kelelahan emosional, luka batin.
7. Sakit punggung, karena ketakutan akan uang, merasa terbebani.
8. Sakit pinggang, karena rasa tidak dicintai, butuh kasih sayang.
9. Jantung, karena rasa kesepian, merasa tidak berharga, takut gagal dan marah.
10. Kanker, karena kebencian terpendam atau makan hati yang menahun.
11. Diabetes, karena keras kepala, tidak mau disalahkan.
12. Glaukoma, karena tekanan dari masa lalu dan tidak mampu memaafkan.
13. Jerawat, karena tidak menerima diri sendiri, tidak suka pada diri sendiri.
14. Pegal-pegal, karena ingin dicintai dan disayangi, butuh dipeluk dan kebersamaan.
15. Obesitas, karena takut, ingin dilindungi, kemarahan terpendam, tidak mau memaafkan.
16. Mata minus, karena takut akan masa depan.
17. Mata plus, karena tidak mampu memaafkan masa lalu.

“Orang yang emosinya tenang, apapun yang dilihatnya lebih jelas. Bila Anda punya masalah lalu dibawa ibadah, mau sujud beribu-ribu kali kalau emosi Anda belum tenang akan percuma,” lanjut Irma.
Menurut Irma yang sudah menangani lebih dari 5.000 klien yang bermasalah dengan emosi, cara terbaik untuk merespons emosi khususnya emosi marah adalah dengan mengeluarkannya dengan cara yang baik dan santun atau bicara baik-baik dengan orang yang membuat kita kesal.

“Misal Anda kesal dengan orang A, maka Anda harus menyampaikan pada orang itu bahwa Anda tidak suka dengan tindakan dia, tapi dengan cara yang halus, santun dan bukan marah-marah. Jangan melemparkan emosi kesal Anda pada orang lain, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Jika sekiranya Anda tidak mungkin menyampaikannya, misal dia adalah bos atau orang yang punya jabatan tinggi, maka lakukan sending love. Tetap bersikap baik pada dia sambil mendoakan dia hal-hal yang baik, semoga dia berubah dan berkah, atau berdoa untuk diri sendiri semoga mendapatkan hal-hal baik. Jangan Anda malah mendoakan yang jelek-jelek karena itu akan jadi emosi yang negatif untuk diri Anda sendiri,” t

Fenomena Seks Remaja

Para remaja di Indonesia menjadikan teman pergaulan sebagai sumber utama dalam mencari informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Teman pergaulan mengalahkan peran orang tua  bahkan film porno sekalipun.
 
Survei menunjukkan, sebanyak 51 persen remaja berusia 15-25 tahun lebih memilih bertanya kepada teman mengenai seks. Bukan hanya itu, 75 persen dari 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, mengatakan orangtua mereka tidak mengetahui aktivitas seksual yang mereka lakukan. Hanya 26 persen remaja yang mengaku mereka bersikap terbuka pada orangtuanya.

Demikian menurut hasil riset yang dilakukan DKT Indonesia, organisasi internasional yang berfokus pada pencegahan HIV/AIDS dan kontrasepsi. Survei dilakukan pada bulan Mei 2011 di Jakarta dan sekitarnya, Bali, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.


Menanggapi hasil survei ini, Zoya Amirin, sexual psychologist mengatakan kebanyakan remaja memang malu berdiskusi dengan orangtua mereka mengenai masalah seksual.

“Mereka takut kalau bertanya karena pasti dituduh sudah pernah melakukan atau ingin melakukan hubungan seks,” papar staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini di sela-sela pemaparan hasil survei seks di Jakarta (5/12/2011).

Padahal, menurut Zoya, di usia 15-19 tahun remaja perlu mengetahui pendidikan seksual. “Anak-anak ini harus tahu mengapa mereka merasakan dorongan seksual yang kuat. Di usia ini tanda-tanda seks sekunder juga sudah tampak,” katanya.

Zoya menegaskan, para orangtua sebaiknya membimbing anak-anaknya memahami bahwa seksualitas adalah hal yang normal. “Jangan takut-takuti anak, jelaskan yang nyata dan sebenarnya,” paparnya.
Ia mengungkapkan pelajaran biologi yang didapat anak di sekolah tidak bisa dijadikan andalan pendidikan seksual.

Ketidakberdayaan remaja perempuan dalam menolak rayuan pasangannya tergambar dari survei yang menyatakan 6 persen responden merasa dipaksa untuk berhubungan seks.